seputar pendidikan

sltpn3cpk

sltpn3cpk

sltpn3cpk

Vis, Misi Dan Tujuan SLTP Negri 3 Cipomgkor

VISI

“Mampu Meraih Prestasi Berdasarkan Iman dan Taqwa”

MISI

  • Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki.

 

  • Menumbuhkan semangat untuk berprestasi secara intensif kepada seluruh warga sekolah.

 

  • Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara lebih optimal.

 

  • Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa, sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

 

  • Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga dan komite sekolah.

TUJUAN

1.Menjadikan SLTP Negri 3 Cipongkor sebagai sekolah idola bagi   masyarakat CipongkorKhususnya desa Sirnagalih kecamatan cipongkor.

2.Mejadikan sekolah Unggulan walaupunm letaknya di ujung lanit.

Bersambung

 

Ditulis oleh

 

Rusdan Nasrudin, SPdI

Seputar Pendidikan


Sejak orde baru, anggaran pendidikan sangat minim. Bila dibandingkan dengan negara tetangga (Malaysia, Thailand, Singapura, Phillipina) maka anggaran pendidikan Indonesia paling kecil, sekitar 5-6% saja.

Bahkan, meskipun sudah ditetapkan oleh UUD ’45 bahwa anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN, kenyataannya pada tahun anggaran 2002, 20003 tidak pernah lebih dari 5 %, atau sekitar 10 triliun saja, bandingkan dengan penghapusan hutang sebesar 30 triliun. Dengan anggaran yang sedemikian kecil, yang efektif dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan tidak lebih dari 60%, selebihnya bocor ke tangan-tangan birokrat yang korup!.


Guru sebagai tulang punggung pendidikan masih bernasib malang. Kompetensi professional mereka masih rendah. Jumlah guru yang layak (berlatar belakang pendidikan yang cukup) di tingkat pendidikan dasar tidak lebih dari 50%, sementara di tingkat SLTA tidak lebih dari 67%. Sebagian besar mereka juga mengajar pada bidang studi yang tidak sesuai dengan kompetensi mereka.


Rendahnya kompetensi diperparah dengan rendahnya tingkat kompensasi dan apresiasi terhadap mereka. Gaji mereka masih rendah (hanya mampu untuk hidup 10 hari !). Akibatnya motivasi kerja mereka sebagai guru sangat terganggu, karena mereka harus berfikir dan bekerja mencari tambahan penghasilan di luar profesi guru.
Sekolah-sekolah yang tersedia sungguh minim fasilitas. Ribuan sekolah dasar di desa-desa hanyalah bangunan sederhana dengan fasilitas bangku dan papan tulis yang seadanya. Jangan bayangkan ada fasilitas laboratorium dan perpustakaan yang lengkap!. Dengan kondisi yang demikian, proses belajar mengajar yang dikembangkan sangat monoton, membosankan dan kurang efektif. Penerapan variasi metode mengajar, dan penggunaan berbagai alat peraga dan pemanfaatan aneka sumber belajar sungguh sangat miskin. Ketersediaan buku pegangan mata pelajaran untuk tingkat SD dan SLTP belum maksimal, masih sekitar 60-70%.
Mutu lulusan bila diukur dari angka NEM (sekarang UAN) nampak masih sangat rendah. Rata-rata NEM untuk seluruh mata pelajaran di tingkat SLTP hanya berkisar pada angka 5 (rentang nilai 0-10). Angka yang relatif tinggi hanya terjadi pada sekolah-sekolah unggul di kota-kota besar.
Dengan multi krisis pendidikan seperti itu, maka kemudian tampilah wajah buram sdm kita. Menurut laporan Bank Dunia No. 16369- IND (Greanery,1992), Studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) di Asia Timur menunjukkan bahwa keterampilan membaca kelas IV SD berada pada tingkat terendah. Sebagai gambaran perbandingan skor rata-rata untuk membaca siswa SD adalah 75.5 (Hongkong), 74.0 (Singapura), 65.1 (Thailand), 52.6 (Filipina), dan 51.7 (Indonesia). Anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan. Anak Indonesia sukar sekali menjawab soal-soal uraian yang membutuhkan penalaran. Hasil studi The Third International Mathematics and Science Study – Repeat (IEA,99) menunjukkan bahwa di antara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas dua Indonesia berada pada urutan 32 pada IPA dan 34 pada Matematika.
Kemampuan membaca, matematika dan sains (IPA) rata-rata siswa usia 15 tahun (SLTP dan SLTA) Indonesia masih sangat rendah. Hasil penelitian Tim Program of International Student Assessment (PISA) Indonesia menunjukkan, sekitar 37,6 persen anak usia 15 tahun hanya bisa membaca tanpa mampu menangkap maknanya. Selain itu, 28,4 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibacanya dengan satu informasi pengetahuan. Rendahnya kemampuan membaca rata-rata siswa RI berdasarkan hampir 69 persen siswa yang diteliti baru berkemampuan tahap-I, yakni sekadar membaca, belum mampu ke tahap-II (interpretatif), tahap-III (refleksi) dan tahap-IV (evaluasi). Sedangkan kemampuan matematika dan sains, diketahui bahwa 70% siswa RI hanya mampu menguasai sebatas memecahkan satu permasalahan sederhana (tahap-I), belum mampu menyelesaikan dua masalah (tahap-II), belum mampu menyelesaikan masalah kompleks (tahap-III) dan masalah rumit (tahap-IV).
Indikator lain dari mutu sumber daya manusia dapat dilihat dari data Human Development Report (2000) yang diterbitkan oleh UNDP tentang peringkat indeks pengembangan (Human Development Index, HDI), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia yang makin menurun. Diantara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan 102 pada tahun 1996, peringkat ke 99 pada tahun 1997, peringkat 107 pada tahun 1998, peringkat 109 pada tahun 1999. Indonesia sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan, misalnya lima negara awal anggota ASEAN.

Drs. Fahmy Alaydroes, Psi, MM, MEd.
Di edit oleh : Rusdan Nasrudin, SPdI

pengantar

Terimakasih anda telah mengunjungi halaman kami,

semoga ada guna dan manpaatnya untuk tuan dan nyonya,

wasalam

rusdan nasrudin, SPd

KEHIDUPAN

Dunia di mana kita hidup, Allah menganugerahkan banyak pertolongan bagi manusia. Semua kebutuhan makhluk hidup disediakan dengan mudah; tiada sesuatu apapun yang terlewat.

Sebagai contoh; mari kita berpikir tentang diri kita. Dari saat kita bangun tidur, kita memerlukan banyak hal dan menemukan beragam keadaan. Singkatnya, kita dapat bertahan hidup karena banyaknya pertolongan yang dilimpahkan kepada kita.

Kita mampu bernapas; segera setelah kita bangun tidur. Kita tidak pernah mengalami kesulitan dalam melakukannya, hal tersebut disebabkan oleh karena sistem pernafasan kita dapat berfungsi dengan baik.

Kita mampu melihat; segera setelah kita membuka mata kita. Pemandangan yang jauh serta jelas, semuanya dalam bentuk tiga dimensi dan penuh dengan warna-warni, dapat dilihat dengan mata kita, tentu saja hal ini disebabkan oleh karena desain mata kita yang unik.

Kita mencicipi beragam rasa. Kebutuhan yang berbeda-beda akan vitamin, mineral, karbohidrat atau protein yang terkandung dalam makanan yang kita makan, serta bagaimana kelebihan nutrisi ini disimpan atau digunakan di dalam tubuh tidak pernah merisaukan kita. Lagi pula, kita hampir tidak pernah memikirkan bahwa terjadi proses yang rumit di dalam tubuh kita.

Ketika kita memegang suatu benda dengan tangan kita, kita langsung dapat mengetahui apakah benda tersebut lembut atau keras. Terlebih lagi, kita tidak perlu berpikir untuk melakukan hal ini. Banyak hal-hal kecil seperti itu yang terjadi dalam tubuh kita. Organ-organ tubuh yang bertanggung jawab untuk melaksanakan hal-hal ini mempunyai mekanisme yang rumit. Fungsi tubuh manusia hampir sama seperti sebuah pabrik yang besar dan kompleks. Tubuh ini merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan kepada manusia semenjak manusia menjadi khalifah di muka bumi ini.

Dalam hal ini, ada sebuah pertanyaan yang perlu dijawab: bagaimanakah bahan baku yang diperlukan untuk mengoperasikan “pabrik” ini disediakan? Dengan kata lain, bagaimana air, udara, dan semua nutrisi yang penting untuk kehidupan tersedia?

Mari kita berpikir tentang buah-buahan dan sayur-sayuran. Semangka, melon, ceri, jeruk, tomat, lada, nenas, murbei, anggur, terong…semuanya berasal dari biji-bijian dan tumbuh dalam tanah, dan biji-biji tersebut kadang-kadang memiliki struktur yang keras seperti kayu. Walaupun demikian, sambil mempertimbangkan hal-hal ini, kita harus menjauhi kebiasaan cara berpikir dan menerapkan metode yang berbeda. Dengan membayangkan nikmat rasa serta bau buah arbei atau bau buah melon yang tidak pernah berubah.

Pikirkan, berapa banyaknya waktu dan energi yang dihabiskan dalam laboratorium guna menghasilkan bau yang sama dan tentang percobaan-percobaan yang berulang kali dilakukan tetapi selalu gagal. Tentu saja, hasil yang diperoleh oleh para ilmuwan di dalam laboratorium membuktikan bahwa tidak ada yang lebih baik selain imitasi gagal mereka; apabila dibandingkan dengan pasangan alamiahnya. Beragam rasa, bau dan warna di alam justru memberikan tanda-tanda yang tak tertandingi.

Bahwa semua sayuran dan buah-buahan memiliki bau dan rasa tersendiri serta mempunyai ciri khas warna yang berbeda-beda merupakan hasil kreasi yang diciptakan khusus untuk mereka. Hal itu semua merupakan karunia yang diberikan Allah atas manusia.

Hampir sama dengan hal di atas, binatang juga diciptakan untuk manusia. Terlepas dari kegunaannya sebagai makanan, manusia melihat bahwa bentuk fisik binatang-binatang tersebut memberikan daya tarik tersendiri. Ikan, batu karang, bintang laut yang menghiasi kedalaman laut dengan warna-warnanya yang indah, beragam burung yang habitatnya memesonakan atau kucing, anjing, lumba-lumba dan penguin…mereka semua merupakan karunia Allah. Allah menekankan hal ini dalam banyak ayat:

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. 45:13)

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 16:18)

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14:34)

Makhluk hidup yang telah dijelaskan di atas hanyalah merupakan sebagian kecil dari karunia dan keindahan yang Allah limpahkan. Ke mana saja kita berjalan, kita melintasi hasil ciptaan yang mencerminkan tanda-tanda kebesaran Allah. Allah adalah Maha Pemberi Rezeki, Maha Halus, Maha Dermawan, Maha Baik.

Sekarang, lihatlah sekeliling anda dan berpikirlah. Dan jangan pernah menafikan kenyataan bahwa segala sesuatu yang anda miliki merupakan karunia untuk anda dari sang Pencipta diri anda.

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS. 16:53)

harunyahya.com

UMAR BIN KHATAB, RA

Kisah ini terjadi pada masa khalifah Umar bin Khattab ra. Ada seorang pemuda kaya hendak pergi ke Makkah untuk melaksnakan ibadah umrah. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya. Setelah semua dirasa siap, diapun memulai perjalanannya.Ditengah perjalanan, dia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu duduk dibawah pohon. Akhirnya, dia terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.

Saat dia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta itu pergi kesana kemari. Akhirnya unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Dia juga merusak segala yang dilewatinya.

Penjaga kebun itu adalah seorang kakek yang sudah tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu. Namun dia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, lalu sang kakek membunuhnya.
Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, dia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun. Pada saat itu seorang kakek datang.

Pemuda itu bertanya, ”Siapa yang membunuh unta ini?”

Kakek itu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, terpaksa dia membunuhnya.

Mendengar hal itu, sang pemuda sangat marah hingga tak terkendalikan. Serta merta dia memukul kakek penjaga kebun itu. Nasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu menyesal atas apa yang diperbuatnya. Dia berniat kabur.

Saat itu, datanglah dua orang anak sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya.

Kemudian, keduanya membawa pemdua itu untuk menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Uman bin Khattab ra. Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka.
Lalu, Umar bertanya kepada pemuda itu. Emuda itu mengakui pebuatannya. Dia benar-benar menyesal atas apa yang dilakukannya.

Umar berkata, ”Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah.”

Seketika itu, sang pemuda meminta kepada Umar, agar dia diberi waktu dua hari untuk pergi ke kampungnya, sehingga dia bisa membayar hutang-hutangnya.

Umar bin Khattab berkata, ”Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi kesini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti dirimu.”

Pemuda itu menjawab, ”Aku orang asing di negeri ini, Amirul Mukminin, aku tidak bis mendatangkan seorang penjamin.”

Sahabat Abu Dzar ra yang saat itu hadir disitu berkata, ”Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ini tidak datang lagi setelah dua hari.”

Dengan terkejut, Umar bin Khattab berkata, ”Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar…wahai sahabat Rasulullah?”

”Benar, Amirul Mukminin,” jawab Abu Dzar lantang.

Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishash, orang-orang menantikan datangnya pemuda itu. Sangat mengejutkan! Dari jauh sekonyong-konyong meeka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia sampai di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandang dengan rasa takjub.

Umar bertanya kepada pemuda itu, ”Mengapa kau kembali lagi kesini wahai anak muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?”

Pemuda itu menjawab, ”Wahai Amirul Mukiminin, aku datang kesini agar jangan sampai orang-orang berkata, ’tidak ada lagi orang yang menepati janji dikalangan orang islam’, dan agar orang-orang tidak mengatakan, ’tidak ada lagi lelaki sejati, kesatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya dikalangan umat Muhammad saw’.”

Lalu Umar melangkah ke arah Abu Dzar Al-Ghiffari dan berkata, ”Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?”

Abu Dzar menjawab, ”Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa, ’tidak ada lagi lelaki jantan yang bersedia berkorban untuk Saudaranya seiman dalam umt Muhammad saw’.”
Mendengar itu semua, dua orang lelaki anak kakek yang terbunuh itu berkata, ”Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin, kami bersaksi dihadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apapun darinya! Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf di kala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa, ’tidak ada lagi orang yang berjiwa besar, yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat Muhammad saw’.”

Dari buku ”Ketika cinta berbuah surga” – Habiburahman El-Shirazy

NESTAPA

Sejak kecil aku dibesarkan di lingkungan betawi(jakarta) orang tuaku memberinama terbaik untukku. Sebut saja namaku syifa. Allham dulilah aku bersyukur kepada allah SWT, sejak kecil aku dibina oleh kedua orangtuaku dengan nilai nilai islam yang sangat kental, untuk pendidikan misalnya orngtuaku lebih percaya pada sekolah islam (Madrasah) ketimbang sekolah umum. Kurasakan kesegaran lingkungn agamis dalam kehidupan keluarga besarku, Meski begitu, tida serta merata aku berkabbur dan berlaku ujub karna merasa menjadi orang suci sebagi bagian dari keturunan keluarga nabi saw. Aku sadar, tak ada artinya sebagai keturunan nabi, kalau akhirnya mengabaikan ajaran dan pegangannya, yaitu al quran dan sunnah. Untuk itu. Aku bertekad untuk meningkatkan nilai takwaku kepada allah swt. Karena hanya orang orang bertakwa saja yang mendapat tempat disisinya. Saat aku mencapai usia baligh, orang tuaku lebih berhati hati menjaga pergaulanku. Mereka kawatir kalau aku terjerumus dalam pergaulan remaja jakarta yang saat itu sangat bebas. Ketika saat aku sudah dipandang cukup usia untuk berumah tangga, mereka memilihkan jodohku dari kalangan keturunan arab yang masih semarga. Walhasil aku dinikahkan dengan seorang lelaki yang baik dan sekufu. Awal rumahtangga kami bahagia karena aku memiliki figur suami yang bertanggungjawab. Ia mau bekerjakeras dengan berbanting tulang demi menafakahi kelurarga, 30 tahun silam anak perempuan pertamaku lahir. Beberapa tahun kemudian allah mengaruniakan kami beberapa orang anak. Seluruh anak kami empat orang. Tahun demi tahun berlalu dengan begitu cepat.anak anakku mulai tumbuh dewasa. Sejalan dengan itu, kebutuhan keluarga, terutama untuk biaya pendidikan anaku kian meningkat, boleh dibilang dalam soal berkeluarga, aku hanya sebagai ibu rumah tangga dan tidak banyak membantu suami dalam masalah materi, terusterang dalam kondisi ekonomi suami yang pas pasan, saya merasa kasian dengannya,profesinya hanya sebagai penjual minyak wangi. Memang dalam kenyataannya, keluarga dari pihak suamikku rata rata kehidupannya sejahtera. Kebanyakan mereka adalah orang berada, bahkan ada yang punya beberapa perusahaan besar. Ada yang dibidang tekstil, perdagangan dan sebagainya. Meski begitu, tak satupun dari mereka yang mau peduli pada kondisi keluarga kami. Bahkan kami seolah dikucilkan dari pergaulan mereka.

« Older entries
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.